Angel adeline lystin batee

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
HANCUR NAMUN SETIA

HANCUR NAMUN SETIA

Bab 5 kita

Hari ini, adalah hari persahabatan gue dengan mely tepatnya tanggal 6 november 2017. Itu adalah hari pertama kami menjalin hubungan persahabatan. Gue sangat gembira di hari ini. Bisa dikatakan, kalau hari ini adalah hari jadi persahabatan kami. Gue langsung menelpon mely dari kelas. 📱 “tit...tit...” bunyi handphone yang menyambungkan sinyal. Belum beberapa detik, panggilannya terputus. Gue kecewa sih.. tapi gue tetap berusaha untuk mencari cara agar mely mau menerima telepon gue.

📱 “p” gue mengirim pesan ini. Gue melihat mely hanya membuka saja tapi tidak di balas.

📱 “selamat hari jadi kita...🎈🎈”

Tapi, tetap saja mely tidak membalasnya.. ketika gue membuka status watsap mely, katanya “ternyata dia bodoh! Gue hanya ingin sesuatu darinya.. tapi dia terlalu setia untuk gue... alay deh... si kawan... hahahaha”

Entah kenapa statusnya mely, menyakitin hati gue ya..? Apa di dalam status mely dia sedang nyindir gue? Apa coba salah gue... kenapa di hari yang spesial ini, gue disakitin lagi oleh sahabat gue sendiri? Padahal hanya di hari ini gue paling ingin berbicara dengan mely.

“Andaikata posisi lo ada di gue, apa yang harus lo lakukan?? Di hari jadi oersahabatan gue dengan mely, kenapa hati ini menagis... apa menurut lo semua... gue kuat menghadapi mely... bagaimana pun pendapat lo... gue terima...”

“gelish.. ke.. kantin yuk... gue laper nih.. dari pagi gue gak makan..” roland menghampiri gue sambil menghitung uang yang dia bawa. “apa disaat-saat seperti ini, kita harus memikirkan perut? Hati gue yang terluka oleh mely, gak akan pernah bisa di sembuhin dengan gorengan...” gue mengatakan itu ke roland dengan penuh perasaan. “he.. perut lo... kalo gak lo isi pasti bunyi-bunyi.. ujung-ujungnya.. lo juga yang sakit nanti... udahlah.. soal mely.. gampang. Intinya... lo harus ikut gue ke kantin.. gue yang bandar...”kata roland lagi-lagi membujuk gue. Memang sih.. kalau gue nolak, gue yang sakit perut... kalau gue terima... gue malu... kale... haha.. udah deh.. gue terima aja... lagian.. uangnya roland yang keluar bukan uang gue...

Ketika gue dan roland sampai di kantin, gue merasa bahwa gue lah.. satu-satunya siswa yang gak pernah nginjakkan kaki ke kanttin. “land.. gue mau nanya..” kata gue menarik telinga roland. “tanya dong lish.” Kata roland lebay. “ini... em..eh.. ini..” kata gue ragu-ragu. “a..i..u..e..o.. ngomong kok komat-kamit, emang gue hantu?” kata roland membentak gue dengan suaranya yang khas itu. “eh.. gue mau nanyak...” gue sekali lagi mengulang kata. “ya elah... lo ngomong gak... atau gue ambil nih saus, gue sumbat mulut lo..” kata roland gondok. “iya...iya.. land.. ini yang namanya kantin...?” gue bertanya seakan roland menanggapi gue seperti orang bodoh. “gak. Ini ruang musik...” kata roland dengan wajahnya yang mulai memerah. “sabar ya...” kata gue mengelus-elus dasi roland. Memang sih... kalau jaringan otak gue telkomsel, pasti gak ada jaringannya... hahaha.. makanya.. orang yang menghadapi gue, haruslah orang yang benar-benar.... ‘sabar’.

Di kantin, ternyata bukan hanya gue dan roland, tapi willi, cindy dan gidion juga ada di meja kami berada. “kalian kog di sini juga?” gue ngomong ke mereka. “eps.. slo lah bro.. gini-gini kami anak kantin...” kata gidi nyerocos. “makanya gelish, lo itu sesekali ke kantin.. jangan baca buku terus...” willi nyambung. “eh.. guys ini ceritanya duduk-duduk aja, apa gak ada yang mau bergerak untuk beli?” sambung cindy..memulai kode keras. “ya.. sabar udah gue pesan kog...” kata willi. “cie.. banyak uang...” gue merayu willi. “weh.. slow..slow.. gini-gini... minjam nih.. hehehe” kata willi. Kami pun tertawa dengan gembiranya. Sambil menunggu pesanan yang di pesan willi, cindy mengambil gitar yang ada di tangan gideon. Cindy menyanyikan satu lagu.

“Kuatkan hati bagi kita setia...

Tak memandang kesalahan dirinya... kutetap maafkan..

Air mata ku harus keluar saat hariku bahagia..

Oh.. sahabat penghianat...

Reef: kau datang untuk keperluanmu..

Kau datang untuk kebutuhanmu

Bukan untuk kesedihanku

Bukan untuk kebahagiaan diriku...”

Gue merasa.. setiap lagu yang di nyanyikan oleh cindy, hati gue merasa tersentuh. “cind.. lo nyanyi atau apa sih...” gue memotong dan menghentikan nyanyian cindy. “untuk menyadarkan hati sobat gue yang masih belum terima kenyataan.” Kata cindy. “permisi dek.. ini pesanannya... ya..” kata ibu kantin yang mengantarkan makanan kami. Tak terasa ternyata pesanan kami sudah siap. “wes.... kita makan mie ayam...” kata gidion memecahkan suasana keheningan. “ih..willi.. lo gak bangkrut nih.. traktirin kita-kita?” kata roland dengan percaya dirinya. “lo mau makan gak.. masak lo raguin willi sih..” kata willi dengan sombongnya. Memang sih beruntung di traktirin willi tapi, willi nya terlalu sombong menurut gue.. tapi, memang kenyataan sih..

Saat kami menikmati makanan yang di sediakan cindy tiba-tiba bicara.. “gelish.. lo udah baikan sama mely?” kata cindy yang mengingatkan masalah gue lagi. “belum” kata gue singkat. “udah.. gelish, kalau lo mau curhat.. silahkan aja.. anggap aja kami semua di sini saudara..” kata gidion. Gue pikir ya.. gidion itu orangnya gak asik.. tapi setelah kebersamaan muncul, masing-masing sifat mereka pun menjadi terbuka. “guys.. gue baru pertama kali makan di kantin dan gue merasa kebersamaan kita semua semakin nyata..” gue mulai pembicaraan. “maksudnya??” kata mereka serempak. “hahaha.. kalian masih labil... udah.. makan aja dulu... nanti sendok kalian masing-masing tertelan.” Kata gue. Kami pun tertawa bersama sambil menikmati mie ayam yang ada di depan kami.

“huh.. akhirnya kita selesai makan juga..” kata cindy. “ngomong-ngomong, ini makan gak pakai minum?” roland sekali lagi memberikan kode keras. “we.. pekalah..” kata cindy menyambung. Gue langsung pergi meninggalkan mereka semua dan membeli minuman gue sendiri. “pesan minuman rasa cokalat satu.” Kata gue ke ibu kantin sambil mengeluarkan uang lima ribu. “nih.. non..” kata ibu kantin, sambil memberikan kembalian empat ribu. Gue langsung pergi menemui mereka semua. “ya.. gelishnya.. peka.. makasih gelish..” kata gidion... gue gak nyangka satu minum satu cangkir, lima mulut... mari kita sama-sama membayangkannya ya..

“eh.. besok-besok, kalau ke kantin kita buat jadwal yang traktir ya..” kata roland. “yolah..” kata cindy.

Saat dalam perjalanan ke kelas, willi mendatangi gue dan roland. “lish.. lo dekat banget sih sama roland.” Willi datang dengan raut wajah yang tidak menyenangkan. “ya.. terserah gue lah.. roland itu adalah saudara gue...” gue berkata dengan pedenya. “saudara dari mananya??” kata willi kebingungan. Gue gak mau jawab lagi. Kalau gue jawab, pasti berabe urusannya. Willi sifatnya blak-blakkan, sombong, dan yang terakhir, orangnya suka kepo. Sifat yang ada pada willi adalah sifat yang paling-paling bertentangan dengan gue.

“waktunya pulang..” kata salah seorang yang ada di kelas gue.

Saat pulang sekolah, lagi-lagi willi datang. “lish.. lo pulang sama siapa?” katanya sambil mengancingkan tas gue yang belum tertutup. “makasih. Gue pulang palingan jalan kaki.” Kata gue pasrah. “em.. gue antar boleh..?” kata willi memberikan perhatiannya. “eh.. gak usah gue gak mau ngerepotin lo.. nanti orang tua lo nungguin lo dirumah jadi kelamaan.” Kata gue buru-buru pergi. “enggak.. gue tulus kog.. lagian.. orang tua gue lagi gak ada di rumah..” katanya santai. “jangan willi.. lo mempunyai orang tua yang baik. Jadi lo juga harus baik. Jadi setelah pulang sekolah, seharusnya lo itu pulang di rumah.” Kata gue menasihati. “yakin lo.. gak mau? Nanti kalau kaki lo pegal kayak mana?” katanya sok khawatir. “ enggak bakalan... kalau gue sakit... bukan gelish namanya..” gue men cas tangan willi.

“gelish.. seandainya lo tau apa maksud gue.. tapi lo.. memang perempuan baik... jarang gue menemukan perempuan baik, anggun, jutek, seperti lo...”

Gue pun pulang jalan kaki. Gue penasaran akan sifat willi yang mendadak sok perhatian ke gue. Eyu.. jijik sih.. tapi.. senang juga sih.. dan gue juga agar terhibur..

“kapan gue mengatakan friend pada kalian? Disaat kalian menerima gue apa adanya..”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali